Senin, 05 April 2010

1 Tamparan untuk 3 pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, Kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai.
Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.
Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2.Apakah yang dinamakan takdir
3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api,tentu tidak menyakitkan buat syaitan.Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?
Kiyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?
Pemuda : Ya!
Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!
Pemuda : Saya tidak bisa.
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda : Tidak.
Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
Pemuda : Tidak.
Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.
Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit.
Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.
(sumber: www.majelisrasulullah.org)

Jumat, 22 Mei 2009

Batal Haji Karena Derita Wanita Miskin

Suatu ketika, Rabi' bin Sulaiman berkeinginan menunaikan ibadah haji. Rencananya, la akan menunaikan ibadah haji bersama salah seorang saudaranya dan bersama-sama dengan rombongan lainnya.
Ketika sampai di Kufah, Rabi' bin Sulaiman berkeliling di pasar untuk membeli keperluan selama dalam perjalanan tersebut. Di suatu tempat yang sepi, tak sengaja Rabi' bin Sulaiman melihat seorang perempuan. Perempuan itu berwajah lusuh dan berpakaian compang-camping. Dengan sebilah pisau ditangannya, perempuan itu tampak begitu antusias memotong-motong bangkai seekor bighal. Lalu, potongan daging bangkai Bighal itu ia masukkan ke dalam bakul.
Rabi' bin Sulaiman tercenung. Di pikirannya berkelabat dugaan bahwa perempuan yang dilihatnya adalah istri seorang tukang masak roti. "Barangkali ia akan memasak bangkai tersebut dan memberikannya kepada orang lain." Begitu pikirnya.
"Ini tidak boleh didiamkan," tambahnya lagi.
Rasa penasarannya membuncah. Rabi' bin Sulaiman pun diam-diam membuntuti perempuan itu hingga
langkahnya terhenti setelah tiba disebuah rumah besar. Rupanya, inilah rumah yang dituju perempuan itu.
"Tok....tok....tok...." Perempuan Itu mengetuk pintu. "Siapa?," tanya seseorang dari dalam rumah. "Bukalah pintu! Aku adalah orang yang paling malang."
Seseorang membuka pintu dari dalam. Empat anak perempuan mendekat kearah pintu itu terbuka. Tak ada simpul keceriaan di wajah keempat anak perempuan itu. Guratan wajahnya menyiratkan lilitan beban berat dalam hidup yang mereka hadapi.
Rabi' bin Sulaiman, mengintip dari lubang pintu. Didalam rumah itu keadaannya sangat menyedihkan. Ruangan dalam rumahnya nampak kosong, tidak ada apa-apa. Sambil menangis, perempuan itu berkata kepada anak-anaknya," Masaklah daging ini dan bersyukurlah kepada Allah SWT, karena Dia-lah yang berkuasa terhadap hamba-hambaNya."
Anak-anak perempuan itu memotong-motong daging itu dan hendak membakarnya. Melihat pemandangan
itu, Rabi' bin Sulaiman pun berteriak," Wahai hamba Allah, demi Allah janganlah kalian memakan daging itu."
"Siapa engkau?"
"Aku orang asing."
"Wahai orang asing, apa yang engkau inginkan dari kami? Kami sendiri terbelenggu oleh takdir. Selama tiga tahun tidak ada seorang pun yang menolong kami dan membantu kami. Apa yang engkau inginkan dari kami?"
"Selain satu golongan dari agama Majusi tidak ada satu agama pun yang memperbolehkan makan bangkai."
Perempuan itu berkata,* Kami adalah keturunan Nabi saw. Ayah dari anak-anak perempuan itu adalah orang yang mulia. Ia ingin menikahkan putri-putrinya dengan seorang sepertinya. Belum lagi ia melaksanakannya, ia telah meninggal dunia. Harta warisan yang ia tinggalkan telah habis. Kami tahu bahwa makan bangkai itu tidak diperbolehkan, akan tetapi ketika dalam keadaan darurat diperbolehkan. Sudah empat hari kami kelaparan."
Mendengar Itu Rabi' menangis. Ia pulang. Kepada saudaranya, ia mengatakan bahwa ia tidak pergi berhaji. Saudaranya berusaha menyebutkan keutamaan-keutamaan haji. la menuturkan bahwa orang yang pulang dari haji akan pulang dalam keadaan bersih dari dosa-dosa dan banyak keutamaan lainnya.
"Sudahlah, tidak usah banyak bicara!" tukas Rabi' bin Sulaiman.
Rabi' bin Sulaiman mengambil pakaian ihramnya dan seluruh perbekalannya serta uang tunal 600 dirham. Seratus dirham ia belikan gandum, seratus dirham la belikan pakaian. Sisanya ia masukkan ke dalam tepung gandum, lalu ia berikan semua barang-barang itu kepada si perempuan.
Menerima bantuan itu, si perempuan berujar,"Wahai Ibnu Sulaiman, pergilah! Semoga Allah swt mengampuni seluruh dosamu, yang lalu maupun yang akan datang. Dan semoga Allah swt memberimu pahala haji, semoga Allah swt memberimu suatu tempat didalam surga, dan semoga Dia memberimu ganti yang akan engkau lihat."
Putri pertamanya turut mendoakan,"Semoga Allah swt melipatgandakan pahalamu dan mengampuni dosa-dosamu."
Berikutnya putri yang kedua mendoakan," Semoga Allah swt. Membalasmu dengan balasan yang lebih banyak dari apa yang engkau berikan kepada kami."
Berikutnya lagi putri ketiga mendoakan,"Semoga Allah swt membangkitkan engkau bersama kakek kami (Nabi Muhammad saw).*
Disusul Putri yang keempat, yang paling kecil, berdoa,"Ya Allah.berikanlah kepada orang yang berbuat baik kepada kami balasan dengan cepat dan ampunilah dia!"
Kafilah para calon haji telah berangkat sehingga Rabi' bin Sulaiman terpaksa tinggal di Kufah. Bahkan hingga mereka kembali dari haji, Rabi'bm Sulaiman masih di Kufah. la bermaksud menyambut jamaah haji dan meminta doa dari mereka. Siapa tahu ada doa yang dikabulkan, pikirnya.
Ketika sebuah rombongan haji datang di depan Rabi' bin Sulaiman, ia merasa sangat sedih karena tidak bisa pergi haji. Matanya berkaca-kaca.Ketika bertemu dengan mereka, ia berkata," Semoga Allah swt menerima haji kalian dan mengganti seluruh harta yang kalian belanjakan."
Salah seorang dari mereka berkata,"Doa macam apa ini?"
Rabi' bin Sulaiman berkata," Doanya orang yang dihalangi untuk datang ke pintu di rumah-Nya."
Orang itu berkata,* Sungguh sangat mengherankan, engkau tidak mengakui bahwa engkau telah pergi
bersama. Bukankah engkau bersama kami di Padang Arafah? Bukankah engkau bersama kami melempar jumrah? Bukankah engkau melakukan thawaf bersama kami?"
"Ini adalah karunia Allah," begitu dalam hati Rabi' bin Sulaiman berkata-kata.
Dan ketika itu puia rombongan haji dari kampungnya tiba. Kepada mereka Rabi' bin Sulaiman berkata," Semoga Allah swt menerima usaha kalian dan menerima haji kalian."
Mereka pun mengatakan hal sama kepadanya." Bukankah engkau bersama kami di Padang Arafah, melempar jumrah? Kenapa sekarang engkau seolah-olah tidak mengetahuinya?"
Salah seorang dari mereka maju menghampiri Rabi' bin Sulaiman dan berkata, "Wahai saudaraku, mengapa engkau tidak mengakuinya? Ada apa? Bukankah engkau bersama kami di Mekah atau di Madinah? Ketika kita keluar dari pintu Jibril. engkau menitipkan tas ini kepadaku, karena waktu Itu orang-orang berdesakan di sekellllng kita. Di atas tas itu tertulis: Siapa yang berurusan dengan kami akan beruntung. Nah, ambillah tas berisi uang ini."
Rabi' bin Sulaiman belum pernah melihat tas itu sebelumnya. Tetapi Rabi' bin Sulaiman mengambilnya dan membawanya pulang.Lalu, sesampainya di rumah, ia shalat Isya' dan menyempumakan amalan wiridnya. Malam Itu ia memikirkan kisah yang telah terjadi. Sampai-sampai susah baginya untuk bisa tidur. Begitu matanya terpejam, ia bermimpi. Dalam tidurnya, ia mimpi bertemu Rasulullah saw menjawab salam Rabi' bin Sulaiman sambil tersenyum.
Beliau berkata, "Wahai Rabi', kami sudah memberikan beberapa bukti bahwa engkau tidak percaya. Dengarkanlah! Sesungguhnya ketika engkau bersedekah kepada perempuan yang masih keturunanku itu, dan engkau telah memberikan kepadanya seluruh perbekalanmu, lalu engkau tangguhkan hajimu, maka aku telah berdoa kepada Allah swt agar Dia memberimu ganti yang leblh baik. Maka Allah swt memerintahkan satu malaikat dalam bentukmu untuk mengerjakan haji setiap tahun sampai hari kiamat atas namamu. Dan di dunia ini, engkau diberi ganti 600 dinar sebagai ganti 600 dirham. Sejukkanlah matamu!"
Alkisah, ketika Rabi' bin Sulaiman membuka matanya, ia melihat di dalam tas itu ada 600 dirham.
HIKMAH BAGI KITA
Hampir setiap tahunnya jumlah umat Islam yang berangkat menunaikan ibadah haji ketanah suci terus meningkat. Bahkan, tidak sedikit dari kita yang berkunjung ke sana lebih dari sekali dan pergi berkali-kali. Yang disebut terakhir barangkali bukan isapan jempol belaka. Masih hangat dalam ingatan kita bagaimana pemenntah sampai akhirnya mengeluarkan himbauan, bahwa prioritas utama jamaah yang boleh berangkat adalah mereka yang selama ini belum pernah ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.
Fenomena ini setidaknya menggambarkan, bahwa meski di tengah kehidupan yang serba sulit seperti sekarang ini, ada diantara kita yang hidup dengan ekonomi menggembirakan. Mereka berduyun-duyun meraih kesempatan untuk pergi ke tanah suci hingga berkali-kali.
Namun, pada saat yang bersamaan, membuat kita prihatin. Sebab, fenomena ini menyiratkan potret ketimpangan sosial yang nyata antara si kaya dan si miskin. Jika ada di antara kita yang mampu untuk menunaikan Ibadah haji dan pergi ketanah suci hingga berkali-kali, sementara banyak orang lainnya yang untuk sekadar makan sehari-hari saja begitu sulitnya. Pada titik Inilah sejauhmana kepekaan sosial seseorang dipertaruhkan.
Kesalehan seseorang tidak bisa diukur dari sudah berhaji atau belum berhajikah ia. Kemuliaan seorang hamba bukan karena selendang status 'haji' yang di sandangnya. Hamba yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa diantara kita. Semoga kisah di atas menjadi ibrah kita bersama. Wallahua'alam bil shawab.(sumber : Arifin/Hidayah Des.2006)

Balasan Kebaikan

Al-Qadhi tinggal di Makkah। Nama lengkapnya, Al-Qatihi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar al-Anshari. Dari ujung namanya itu, dapat diketahui kalau ia berasal dari Madinah. Pada suatu hari, ia merasa sangat lapar. Ia tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menghilangkan laparnya yang berat itu.
Tiba-tiba, di tengah jalan, ia menemukan sebuah kantong dari kain sutera yang diikat dengan kaus kaki yang terbuat dari sutera pula. Ketika ia membukanya, ternyata di dalamnya terdapat sebuah kalung permata yang belum pernah dilihatnya.
Ia segera pulang. Tentu membawa benda itu. Namun tak lama kemudian, setelah ia pergi lagi, ia mendengar suara teriakan orang. Rupanya ada seseorang yang sedang mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Sambil mengacungkan kantong berisi uang lima ratus dinar itu, orang itu berkata, "Ini adalah hadiah bagi siapa saja yang mau mengembalikan kantong sutera milikku yang berisi permata."
Al-Qadhi berkata di dalam hatinya: "Aku sedang membutuhkan uang, karena sedang lapar. Aku bisa mendapatkan uang dinar emas itu dengan mengembalikan kantong sutera yang kutemukan tadi."
Al-Qadhi menghampiri orang itu, memberitahukan bahwa ia menemukan sesuatu, seraya mengajak orang itu ke rumahnya. Setiba di rumah, Al Qadhi meminta orang itu menceritakan ciri-ciri barangnya yang hilang. Orang itu pun menceritakan ciri-cirinya secara lengkap, mulai dari kantong sutera, kaus kaki pengikat kantong, permata dengan jumlah butirnya, bahkan berikut benang pengikat (perangkai) permata itu.
Ternyata semuanya sesuai, persis. Artinya, orang itu bukan sekedar mengaku-ngaku. Al-Qadhi lalu menyerahkan kantong itu kepadanya. Pemilik kantong itu ternyata bukan orang kikir yang tak tahu berterima kasih. Sesuai janjinya, ia menyerahkan uang lima ratus dinar kepada Al-Qadhi.
Tetapi Al-Qadli menolak seraya berkata, "Memang seharusnya aku mengembalikannya kepadamu tanpa mengharapkan imbalan."
Namun pemilik kantong bersikeras agar Al-Qadhi bersedia menerima uang tanda terima kasihnya. "Kau harus mau menerimanya", katanya berkali-kali.
Al-Qadhi tetap pada pendiriannya tidak mau menerima uang imbalan itu. Akhirnya, pemilik kantong itu pergi meninggalkan Al-Qadhi.
Beberapa waktu setelah peristiwa itu, Al-Qadhi meninggalkan kota Makkah, berlayar dengan menumpang sebuah perahu. Di tengah laut, perahu yang ditumpanginya itu pecan, sehingga semua penumpangnya tenggelam dengan harta benda mereka masing-masing. Tetapi Al-Qadhi selamat dengan memanfaatkan potongan papan dari pecahan perahu itu sebagai pengganti pelampung. Namun ia tegang. Sebab harus bertarung antara hidup dan mati. Dalam kondisi demikian, tak ada yang dapat dilakukannya kecuali hanya berdoa kepada Allah dengan harap-harap cemas.
Akhirnya Allah menakdirkan Al-Qadhi terdampar di sebuah pulau yang penduduknya buta huruf, tak bisa menulis dan membaca. Tetapi untunglah di pulau itu terdapat sebuah masjid. Al-Qadhi langsung memasuki masjid itu, shalat, lalu membaca ayat-ayat Al Qur'an. Kehadiran Al-Qadhi di pulau terpencil itu segera diketahui penduduk. Mereka merasa tertarik melihat Al-Qadhi bisa membaca Al Qur'an. Kemudian mereka berbondong-bondong menemuinya, minta diajari Al Qur'an. Tentu saja Al-Qadhi dengan senang hati memenuhi permintaan mereka.
Beberapa hari kemudian, penduduk pulau itu semakin tertarik melihat akhlak Al-Qadhi yang taat beribadah, fasih membaca Al Qur'an dan berilmu pula. Akhirnya mereka menjodohkannya dengan seorang putri yatim, yang mempunyai banyak harta. Tetapi Al-Qadhi menolak secara halus dan sopan. Sebab ia tak mau menikah dengan orang hanya karena hartanya. Ia hanya mau menikah dengan perempuan yang bertakwa dan berjiwa luhur serta mulia, walaupun tidak berharta. Namun karena dirinya didesak terus, akhirnya ia memenuhi keinginan penduduk pulau itu untuk menikahi gadis itu.
Ketika gadis itu dibawa ke hadapan Al-Qadhi, ia heran dan sedikit terkejut melihat kalung permata yang melingkar di leher gadis itu. Kalung itu pernah ditemukannya di Makkah, yang kemudian dikembalikannya kepada pemiliknya.
Ia terus memperhatikan kalung permata itu, sehingga orang-orang yang hadir merasa kecewa. Kata mereka, "Sungguh kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu, tetapi tidak memperhatikan orangnya."
Al-Qadhi baru sadar, kemudian menceritakan kepada mereka kisah yang pernah dialaminya di Makkah. Setelah mereka tahu, mereka serentak meneriakkan takbir: Allahu Akbar.
Al-Qadhi merasa heran, lalu bertanya, "Ada apa?" Mereka menjawab, "Orang tua yang menerima kembali kalung darimu saat itu adalah ayah kandung anak perempuan ini. Almarhum pernah mengatakan, 'Aku tidak pernah menemukan seorang Muslim di dunia ini sebaik orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku.' Almarhum juga berdoa, 'Ya Allah, pertemukanlah kembali aku dengan orang itu, agar aku dapat menikahkannya dengan putriku.' Kini, doanya sudah menjadi kenyataan."